Home Creativity Corner Puisi Puisi Lingkungan Kelas X.3

Puisi Lingkungan Kelas X.3

E-mail Print PDF

 

BULAN  UNGU
Karya Febryanti Mandasari

Malam itu bulan bersembunyi
Tampak lelah dan letih
Menampung dosa para manusia
Mengkelabukan siluet awan biru
Malam jadi asing
Pada asap yang mengepul
Pada daun yang berterbangan
Berbisik rintihan bulan ungu
Asap knalpot mendesak sesak
Pada bulan yang kian berdahak
Memohon sebuah kehijauan datang beranjak


DIA  MULAI  MARAH
Karya Nurul Hidayati

Rautan wajahnya memerah,
Panas membara bergelora,
Keningnya berkerut tua,
Bibirnya digigit ujung kuluman,
Dia agaknya mulai marah,
Meradang pada liarnya kapak,
Menembus teras yang menebal,
Dia agaknya makin marah,
Mengamuk pada tombol-tombol angka
Yang memberanakkan karbonmonoksida
Dia agaknya sangat marah,
Menerjang nyawa-nyawa penuh murka
Menelan dunia tanpa iba
Dan hati kita masih saja tertutup buta
Ketika itu dia telah marah.


POHON YANG BERBISIK
Karya Eva Yulianti

Daun mencoba berpelukan,
Saling memberi ketegaran,
Bertahan melawan kebinasaan,
Dari manusia yang berkepala hewan,
Ranting diam-diam merunduk
Tergetir hatinya untuk merajuk
Kepada barisan penebang terduduk
Siap  menebas selepas kantuk
Cabang pohon kian bersuara
Mencoba protes akan haknya
Bisu itu menjelma nyata
Dan dia hanya sebuah cabang tanpa kata
Kali ini pohon yang berbisik
Mencoba merampas senjata sang pengusik
Agar ketenangan hutan tak hilang walau setitik
Dan kala itu pohon berbisik setiap detik
Menitip doa pada setiap hujan rintik-rintik


CERITA KITA
Karya Salwaa Salsabila

Pagi itu jendela terbuka
Embun menusuk tulang-tulang raga
Ada kicau burung mewarnai pagi
Menyelip diantara semilir angin
Sejuk memeluk makin mesra
Itu hanya cerita nostalgia

Pagi ini jendela terbuka
Panas merasuk rusak raga
Suara knalpot membahana sumbang
Mengintip diantara bau-bau sampah
Nyamuk kian menghisap darah sesukanya
Itu cerita kita,
Apa ceritamu?


RISAU BAKAU
Karya Haryuli Amanda

Ketiak-ketiak langit menepi dibarat
Menjahitkan kisah usai diujung perjalanan
Melewati jembatan yang membelah laut
Tersebar bakau berjejer membentang
Potret kota ku penuh bakau
Ikan bertelur dan bertempat tinggal
Bakau itu kini menepis
Seakan dirinya menangis
Tercemar air merah hasil bauksit
Mengeruhkan laut tempat ikan bermain
Kini nelayan menyusut
Enggan pergi melaut
Karena ikan telah mati dan hanyut
Terkapar, lapar, terdampar
Pada batang-batang bakau yang risau
Bangkai ikan diam bersandar,
Diujung laut tanjungpinang, kepulauan riau.


AIR MATA AIR
Karya Indah Sriulina

Seberapa illith kah aku, hingga harus dibunuh
Dibunuh dengan pedang  tanpa asah
Pistol yang tanpa peluru
Dan belati tanpa darah yang bersimbah
Lemparkan saja tangisan pada huesca
Tempat bersemayam kematian abadi
Dan tangan-tangan kotor merambah
Menebar potongan sampah berlimpah ruah
Idiosi mengkausalkan akal fikiran
Sanitasi terbuang jauh dari peradaban
Air mata air tertumpah
Tak mampu terbendung dalam sebuah boozem
Menyentuh kalbu pada titik sedih
Mengoyak kan paradigma yang memudar
Seolah tak mampu berkata tanya sebuah nyata
Memisahkan aku pada dirimu
Yang semakin terkucilkan dari muka bumi
Hingga pada plot selanjutnya
Nurani terketuk dan tenggorokan mulai meraung
Pada air mata air yang bersih dan jernih
Terbebas dari dosa dan nestapa anak cucu Adam
Yang menyimpan lagu penyesalan pada sebuah kisah
Dan lenyap lah air mata air menjadi bencana
Mengantarkan kita pada nisan pemakaman Alam jua


KEHIJAUAN YANG MEREKAH
Karya Engra Fithreea

Hijau hamparan sawah didesa
Menyejukkan kalbu yang hampa
Membelenggu diri pada keembunan jiwa
Kupandang kiri dan kanan rerumputan
Bergoyang tersenyum bahagia
Kesegaran aroma padang lamun menjelma
Singgah direlung-relung raga
Bunga-bunga berdansa senantiasa
Menyebarkan semangat mengusir asa
Berarak awan mengintip digelanggang khatulistiwa
Menuai keindahan di tepi cakrawala
Dan kehijauan itu semakin mempesona
Merekah pada bait-bait prosa kata


LEMBAYUNG BIRU
Karya Windy Oktaviana

Seperti kapas awan menumpuk dilangit
Memutihkan lembayung biru sang latar
Ada deret pelangi menghiasi
Panorama mega biru anggun memikat
Memanggil burung-burung terbang bertengger
Bertengger pada udara yang hilir mudik berlalu
Semakin menghirup aroma kesegaran angin
Layaknya burung dengan dua sayap
Ku ingin terbang menuju lembayung
Meraih kelembutan pada bibir-bibir pelangi
Pada barisan garis-garis alam semesta
Aku tuliskan cerita cinta cita
Abadilah pada lembayung biru
Yang setiap hari menebarkan jubahnya

RINDUKU PADA HUTAN
Karya M.Syahreza

Rinduku pada hutan
Menghirup udaranya
Memandang rimbunnya
Hijau daunnya
Sepinya
Rinduku pada hutan
Menginjak rumputnya
Embunnya
Rinduku pada hutan
Mendengar kicau burungnya
Teriakan sang kera
Auman harimau
Kegesitan kijang
Atau ular yang melata
Rindu ku pada hutan
Rindunya kehidupan

BALLADA BUNGA KARANG
Karya Weselly Pratama

Lelautan biru berfatamorgana kelabu
Ikan-ikan kecil bersembunyi didasar pasir
Seolah tak berani keluar dari celah-celah terumbu
Ada tangisan bunga karang yang mengalir
Serangan pukat harimau membinasakan keindahan
Memecah pusaran air yang mengalun merdu
Lautan telah jadi hutan ribuan racun
Dan bangkai ikan mati terkubur pada pusara karang
Jeritan luka sotong, udang dan bunga karang memudar
Terbawa kapal layar yang megah dan besar
Membelah lautan dengan jala yang lebar
Dan diisinya dengan rangkaian bom-bom menggusar
Mereka kembali tanpa tempat tinggal
Meratapi karang yang hancur berantakan
Tinggal doa mereka panjatkan
Semoga Tuhan menjabah dan memberi pembalasan
Doa lautan untuk mereka para penebar pukat


KUTUB YANG MENANGIS
Karya Wa Ode Lucia Rahmadisinta

Mega itu tak lagi mendung
karena mentari kian terik memekik
Gletser-gletser ikut menjerit
Jatuh dan pingsan mencair jadi air

Kutub menangis pada nasib malangnya
Sedikit demi sedikit tubuhnya terkikis bahaya
Berbongkah es jatuh dan pecah
Menambah airmata mengalir dihulu lautan

Ozon semakin rentan menahan tantangan
Berdiri menjaga tanpa doa dan dukungan
Tinggal harapan tanpa sebuah tindakan
Kutub menangis meraung makin ketakutan

Beruang dan penguin berlari mengungsi
Pada tenda-tenda salju yang putih suci
Berharap ada kehidupan lain yang abadi
Dan hanya satu jalan yaitu MATI
Kutub semakin merintih perih


GANGGANG-GANGGANG RENIK
Karya Cindy Rachel Christine

Ganggang renik yang punah
Termakan usia bernanah
Meratap pada kidung zaman purba
Terkubur  pada tanah-tanah tua
Bukti nyata hidup semakin merana
Bumi semakin berat menanggung dosa
Dosa nista para khalifah semesta
Ganggang-ganggang renik mulai mati
Menebal pada bongkah batu-batu stalaktit
Menutup cerita tentang erectus purbakala
Saat itu jua kehidupan mulai goyah
Dan tanaman-tanaman kecil memandang lirih


PELEPAH-PELEPAH DO’A
Karya Novi Asti Lalasati

Angin bergoyang di senja itu,
Menggerakan daun pada ranting,
Pelepah-pelepah mulai berdoa,
Berharap hujan berhenti menerpa,
Doa itu terangkai menjadi kidung hajat,
Terdampar pada kalbu keinginan,
Mengiris luka menempel pada rerumputan,
Tuhan melihat dibalik Arsy-Nya,
Ada tetes air mata mengalir disetiap pucuk flora,
Memohon Tuhan menjabah dzikir alam.

KEPINGAN  JAMUR
Karya Maya Audina Piratiwi

Jamur yang lembap di lahan sembap
Mengelepar lapar tanpa air hujan
Kemarau yang menyerbu lahan
Menepikan harapan hidup jamur-jamur putih
Dirinya haus semakin menggeturu
Pada tanah yang dulunya surga
Tinggal cerita termakan perlakuan manusia
Jamur-jamur kecil menangis perih
Jadi kepingan yang tercecer
Pada episode-episode berita
Bercerita tentang kemarau yang menggila
Jamur tinggal sebuah nama


LINGUNGAN SEKOLAH
Karya   Tisya Luqyana

Disaat mentari pagi menjelang
kulihat pemandangan yang indah
langit yang membentang luas
dan pepohonan yang hijau

Lingkungan sekolahku
yang indah dan cantik dimataku
Kau membuatku selalu bahagia
ketikaku melihat pemandangan yang ada disekelilingku

Pemandangan yang bersih
langit yang cerah
banyak bunga yang cantik
sehingga kau yang buat hariku indah

lingkungan sekolahku
memancarkan cahaya di pagi hari
dan kerlap-kerlip bintang malam
cantiknya lingkungan sekolahku

SEMPURNA
Karya Selly

Dunia
Kau begitu indah
Di pagi hari yang cerah
Dengan berbagai bunga yang berwarna
Kau begitu rapi
Dikelilingi rumah-rumah bercat putih
Bercat hijau dan berwarna-warni
Kau begitu nyaman
Tiap kupandang
Dan selalu kuhargai kau dengan senyuman
Kau begitu tentram
Seperti kehidupan di dalam hutan
Yang dipenuhi berbagai hewan
Tanpa siksaan
Kau begitu aman
Jiwa dan ragaku tenang
Hidupku seperti dijaga ronda malam
Yang tak pernah diluputi ketakutan
Aku heran
Kenapa tangan-tangan nakal harus ada ?
Kenapa tangan-tangan nakal tak merawatmu ?
Kenapa dunia ?
Aku ingin kau dunia
Dunia seperti dulu
Yang penuh keserasian


........
Karya Vinvin

Derap langkah yang sunyi
Menyelusuri setapak jalan sekolah
Pagi itu...
Mentari tersenyum padaku
Udara segar masih kurasa
Hamparan bunga, semerbak harum
Rimbun pepohonan menyongsong angkasa
Di kala siang menjemput
Panas mentari menyengat kulit
Ia tahu, ia marah, marah!
Sampah bertebaran dimana-mana
Dasar kau yang tak bertanggung jawab
Wahai manusia yang haus ilmu
Duduk manis penuhi bangku
Tong kosong bersaksi bisu
Buanglah sampah pada tempatnya
Tak ada susahnya
Tak ada ruginya
Sekolah menjadi bersih nan indah
Halamanpun semakin asri
Cintailah, syukurilah
Anugerah Tuhan Yang Maha Pemberi
Ayo! Bersama kita ciptakan kembali
Lingkungan  yang bersih nan asri
Budayakan hidup sehat
Kelak, kalau sudah bersih kembali
Jangan kau kotori lagi
Nanti alam bisa murka
Nanti alam bisa marah


LINGKUNGAN SEKITARKU
karya Frido Dwi Saputra

Aku lupa memedulikan lingkunganku
Saat lingkungan ku kotor
Aku lupa membersihkannya
Saat ku tercemar
Aku tidak membersihkannya
Lingkunganku
Kau menjadi berpolusi karena manusia
Kau menjadi kotor karena kami
Semua ulah itu kesalahan kami
Lingkungan hidupku
Maafkanlah perbuatan kami
Maafkan pula kelalaian kami
Mulai saat ini kami pasti akan menjagamu


MENJARAH YANG DIJARAH
Karya M.Taqwim Hadi Kesna

Negeri kita dulunya kaya raya
Berlimpah-ruah sumber daya
Negeri ini negeri yang jaya
Pada zaman dibangsa maya
Itu hanya cerita lama
Bangsa kita kini terjajah
Terjajah karena kekayaannya
Hutan terus saja dijarah
Hingga bangsa ini menangis darah
Memungut kejayaan yang tinggal sejarah
Untuk diceritakan pada anak cucu saja
Kita pernah sempat duduk disinggasana
Lantas jatuh mati dan merana
Hingga kapan, ku pun tak tahu

HIJAU BUMIKU   
Karya Dini Iswati

Kaya
Sungguh kaya bumiku
Dengan hijaunya pepohonan
Dengan birunya lautan
Dan dengan indahnya keindahan  yang di pandang

Bumiku tersenyum
Jika penjaganya bersahabat
Bumiku menangis
Jika penjaganya mulai jahil
Kejahilan itu membuat bumiku merengek
Membuat penjaga meneteskan
Tetesan demi tetesan dari pelupuk matanya

Menjaga dan menyayangi
Memelihara dan meperhatikan
Dan peduli dengan keadaan bumiku yang malang ini
Tiada yang merasa dan peduli dengannya
Hanya kesenangan yang di capai
Bukan kelesetarian dan keindahannya
Hanya kepuasaan sesaat  bukan kenyamanan abadi

Sadar akan hal yang salah
Bumiku kembali terawat
Kembali menghijau
Dan kembali tersenyum
Dengan indahnya pemandangan
Dengan asrinya lingkunganku
Dan dengan hiiijaunya bumiku



LINGKUNGAN SEKOLAH
Karya Ratri Larasati

Pagi hari terasa indah
Saat melihat bersihnya sekolahku
Sudut demi sudut ku lihat
Betapa bersihnya lingkungan sekolah
Tetapi, saat istirahat tiba
Lingkungan menjadi tidak indah
Terdapat tumpukan sampah
Yang mengganggu pemandangan
Apakah mereka tidak sadar pentingnya lingkungan bersih
Seharusnya muncul kesadaran mereka
Untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan indah
Mungkin mereka tidak mengetahui
Apa pentingnya kebersihan itu


ALAM INDONESIA-KU
Karya Widya .C

Alam Indonesiaku nan indah
Berjuta-juta pohon tumbuh menghiasi Hutan Belantara
Berbagai jenis tanaman hias tumbuh dan terjaga
Cinta alam indonesiaku
Danau nan indah di hiasi oleh jernihnya air
Dasar laut yang dihiasi berbagai macam biota laut
Lautan yang dihiasi oleh birunya air laut
Keindahan yang tak berkesudahan dari negeriku
Pantai Indonesiaku ..
Pantai yang dihiasi oleh pasir-pasir putih
Pinggiran pantai yang di tempati oleh bebatuan besar
Pohon kelapa yang hijau dan segar melengkapi keindahan pantai
Hamparan sawah yang ditumbuhi oleh tanaman padi
Orang-orangan sawah yang menjadi hiasan sawah
Indahnya alam Indonesia-ku
Saling melengkapi satu sama lain




SENYUMMU T'LAH USAI
Karya Nicolas Maruli

Jangan lagi kau menangis
Tak ada yang dengar
Simpan saja duka laramu
Karena tak ada yang peduli

Teriakanmu memekakkan telingaku
Rengekanmu menggangu tidurku
Berhentilah mengejarku
Aku tak ada waktu

Comments

Name *
Email (For verification & Replies)
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Last Updated ( Thursday, 23 February 2012 12:45 )  
Banner

E-Learning

Login Form



Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya kami dapat menyiapkan website SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini. Kami harap website ini dapat membeikan informasi yang cukup bermakna tentang SMA Negeri 1 Tanjungpinang.

Read more...



Latest News

Popular News

Supported by

Trijaya Komputindo
Satunusa Network